BUDIDAYA PUYUH

TIPS BUDIDAYA PUYUH

1. PENDAHULUAN

Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs.Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat tahun 1870. Dan selanjutnya dikembangkan ke seluruh penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal dan diternak sejak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.

2. SENTRA PETERNAKAN

Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

3. JENIS

Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica

4. MANFAAT

Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman

5. PERSYARATAN LOKASI

Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
Bukan merupakan daerah sering banjir
Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Perkandangan
Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C, kelembaban kandang berkisar 30-80%, penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.
Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.
Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:

Kandang untuk induk pembibitan

Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasa membutuhkan luas kandang 200 m2.

Kandang untuk induk petelur

Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.

Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)

Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
a. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)

Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
b. Peralatan
Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.

2. Penyiapan Bibit
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan.
Pemilihan, yaitu:
Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
3. Pemeliharaan

Sanitasi dan Tindakan Preventif

Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.

Pengontrolan Penyakit

Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.

Pemberian Pakan

Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.

PT. NATURAL NUSANTARA mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus dan POC NASA. Produk-produk ini menggunakan teknologi asam amino, mineral dan vitamin yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh puyuh yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan puyuh.

VITERNA dan POC NASA mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan puyuh yaitu :
Asam-asam amino esensial, yaitu Arginin, Hiistidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein tubuh, pembentuk sel dan organ tubuh.
Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh itik petelur dari serangan penyakit.
Mineral-mineral lengkap yaitu N, P, K, Ca, mg , Cl dan lain-lain sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam sintesis enzim untuk memperlancar proses metabolisme dalam tubuh.
Cara penggunaannya adalah dengan mencampur/mengoplos VITERNA Plus dan POC NASA menjadi satu botol terlebih dahulu. Kemudian dicampurkan pada air minum dengan dosis : 1 tutup botol campuran VITERNA Plus dan POC NASA untuk sekitar 10 liter air minum dan diberikan setiap 3 hari sekali, terutama pada pagi hari. Air minum diberikan tidak terbatas, jika sudah habis harus diisi kembali. Gunakan air yang bersih, bebas dari logam dan mikroorganisme. Tempat penampungan air pun tidak terbuat dari bahan yang mudah berkarat.

Keunggulan dan manfaat pemberian VITERNA dan POC NASA pada burung puyuh adalah :
1) Berasal dari bahan alami/organik, bukan dari bahan-bahan kimia atau sintetik,
2) Mampu menggantikan pemberian vitamin dan mineral kimia/sintetik,
3) Meningkatkan nafsu makan,
4) Mengurangi kestresan pada ayam, baik pada saat masuk kandang pertama kali, setelah ayam divaksinasi atau saat ayam dalam proses pengobatan,
5) Mengurangi bau kotoran,
6) Meningkatkan kesehatan ayam,
7) Mempercepat waktu pertama bertelur di mana pada burung puyuh umur 30 hari sudah mulai bertelur,
8) Angka kematian : 3% – 5%,
9) Cangkang telur lebih kuat dan tidak mudah pecah.

Pemberian Vaksinasi dan Obat

Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.

7. HAMA DAN PENYAKIT

1.Quail enteritis
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus. Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat. Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh. Pengendalian:
(1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang;
(2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya. Untuk mengatasi penyakit TETELO pada burung puyuh,
2. Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular. Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
3. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
4. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin. Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah. Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
5. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular. Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir. Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
6. Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus. Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang. Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
7.Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk. Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah. Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.

8. PANEN

1. Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
2. Hasil Tambahan
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.
Catatan : Penggunaan produk Nasa, Viterna, POC Nasa, dan Hormonik ini juga sangat bermanfaat untuk mendukung budidaya peternakan lainnya, seperti Budidaya Kambing, Budidaya Babi, Budidaya Unggas, maupun budidaya hewan hias.

BUDIDAYA LADA DENGAN NASA

Budidaya Lada

 

 

 

 

A. PENDAHULUAN

Tanaman lada termasuk tanaman rempah yang banyak dikembangkan di Indonesia. PT. Natural Nusantara berupaya membantu meningkatkan produksi tersebut secara kuantitas, kualitas dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan(Aspek K-3).

B. SYARAT PERTUMBUHAN

1. Iklim

  • Curah hujan 2.000-3.000 mm/th.
  • Cukup sinar matahari (10 jam sehari).
  • Suhu udara 200C – 34 0C.
  • Kelembaban udara 50% – 100% lengas nisbi dan optimal antara 60% – 80% RH.
  • Terlindung dari tiupan angin yang terlalu kencang.

 

2. Media Tanam

  • Subur dan kaya bahan organik
  • Tidak tergenang atau terlalu kering
  • pH tanah 5,5-7,0
  • Warna tanah merah sampai merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol dan Utisol.
  • Kandungan humus tanah sedalam 1-2,5 m.
  • Kelerengan/kemiringan lahan maksimal ± 300.
  • Ketinggian tempat 300-1.100 m dpl.

 

C. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Pembibitan

  • Terjamin kemurnian jenis bibitnya
  • Berasal dari pohon induk yang sehat
  • Bebas dari hama dan penyakit
  • Berasal dari kebun induk produksi yang sudah berumur 10 bulan-3 tahun (Kebutuhan bibit ± 2.000 bibit tanaman perhektar)

 

2. Pengolahan Media Tanam

a. Cangkul 1, pembalikan tanah sedalam 20-30 cm.

b. Taburkan kapur pertanian dan diamkan 3-4 minggu. Dosis kapur pertanian :

  • Pasir dan Lempung berpasir: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha.
  • Lempung: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 1,7 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha.
  • Lempung Berdebu: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 2,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 3,2 ton/ha.
  • Lempung Liat: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 3,4 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 4,2 ton/ha.
  • Cangkul 2, haluskan dan ratakan tanah

 

3. Teknik Penanaman

  • Sistem penanaman adalah monokultur (jarak tanam 2m x 2m). Tetapi juga bisa ditanam dengan tanaman lain.
  • Lubang tanam dibuat limas ukuran atas 40 cm x 35 cm, bawah 40 cm x 15 cm dan kedalaman 50 cm.
  • Biarkan lubang tanam 10-15 hari barulah bibit ditanam.
  • Waktu penanaman sebaiknya musim penghujan atau peralihan dari musim kemarau kemusim hujan, pukul 6.30 pagi atau 16.30-18.00 sore.
  • Cara penanaman : menghadapkan bagian yang ditumbuhi akar lekat kebawah, sedangkan bagian belakang (yang tidak ditumbuhi akar lekat) menghadap keatas.
  • Taburkan pupuk kandang 0,75-100 gram/tanaman yang sudah dicampur NATURAL GLIO.
  • Tutup lubang tanam dengan tanah galian bagian atas yang sudah dicampur pupuk dasar : NPK 20 gram/tanaman. Untuk tanah kurang subur ditambahkan 10 gram urea, 7 gram SP 36 dan 5 gram KCl per tanaman. Segera setelah ditutup, disiram SUPERNASA :
  1. Alternatif 1 : 0,5 sendok makan/ 5 lt air per tanaman.
  2. Alternatif 2 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 20 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.
  • Pemberian SUPERNASA selanjutnya dapat diberikan setiap 3 – 4 bulan sekali.

 

D. PEMELIHARAAN TANAMAN

1. Pengikatan Sulur Panjat Panjatkan pada tiang panjat menggunakan tali. Ikatkan dengan dipilin dan dilipat hingga mudah lepas bila sulur tumbuh besar dan akar lekatnya sudah melekat pada tiang panjat.

2. Penyiangan dan PembumbunanPenyiangan setiap 2-3 bulan sekali. Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.

3. Perempalan Perempalan atau pemangkasan dilakukan pada: Batang, dahan, ranting yang tidak produktif, atau terserang hama dan penyakit.Pucuk/batang, karena tidak memiliki dahan yang produktif Batang yang sudah tua agar meremajakan tanaman menjadi muda kembali.

4. Pemupukan Susulan Penyemprotan POC NASA (4-5 tutup) atau POC NASA (3- 4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 3 – 4 minggu sekali.
5. Pengairan dan Penyiraman Pada musim kemarau penyiraman sehari sekali di sore hari. Pada musim hujan tidak boleh tergenang.
6. Pemberian Mulsa Usia 3-5 bulan, beri mulsa alami berupa dedaunan tanaman tahunan ataupun alang-alang.
7. Penggunaan Tajar ( Ajir) Sebaiknya gunakan tajar mati dari bahan kayu. Pangkal tajar diruncingkan, bagian ujung dibuat cabang untuk menempatkan batang lada yang panjangnya telah melebihi tinggi tajar. Panjang tajar 2,5-3 m.
E. HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama
  • Hama Penggerek Batang (Laphobaris Piperis) Ciri: berwarna hitam, ukuran 3-5 mm. Serangga dewasa lebih suka menyerang bunga, pucuk daun dan cabang-cabang muda. Akibat lain bila Nimfanya (serangga muda) berupa ulat akan menggerek batang dan cabang tanaman. Pengendalian: memotong cabang batang; penyemprotan PESTONA.
  • Hama bunga Ciri: Serangga dewasa berwarna hitam, sayap seperti jala, terdapat tonjolan pada punggungnya, ukuran panjang tubuh 4,5 mm dan lebar 3 mm. Gejala: serangga dewasa/nimfanya menyerang bunga berakibat bunga rusak dan menimbulkan kegagalan pembuahan, siklus hidupnya sekitar 1 bulan. Pengendalian: penyemprotan PESTONA, serta dapat juga dilakukan pemotongan pada tandan bunga.
  • Hama buah Ciri: serangga berwarna hijau kecoklatan, nimfanya tidak bersayap, berwarna bening dan empat kali ganti kulit. Serangga dewasa atau nimfanya menyerang buah sehingga isi buah kosong. Telurnya biasa diletakkan pada permukaan daun atau pada tandan buah, siklus hidupnya sekitar 6 bulan. Pengendalian: musnahkan telur dipermukaan daun, cabang, dan yang ada pada tandan buah. Gunakan PESTONA.
2. Penyakit
  • Penyakit busuk pangkal batang (BPP)Penyebab: jamur Phytopthora Palmivora Var Piperis. Gejala: awal serangan sulit diketahui. Bagian yang mulai terserang pada pangkal batang memperlihatkan garis-garis coklat kehitaman dibawah kulit batang. Daun berubah warna menjadi layu (berwarna kuning). Pencegahan : penanaman jenis lada tahan penyakit BPB. Pemberian Natural Glio sebelum dan sesudah tanam.
  • Penyakit kuning Penyebab: tidak terpenuhinya berbagai persyaratan agronomis serta serangan cacing halus (Nematoda) Radhophalus similis yang mungkin berasosiasi dengan nematoda lain seperti Heterodera SP, M incognita dan Rotylenchus Similis. Gejala: menyerang akar tanaman lada, ditandai menguningnya daun lada, akar rambut mati, membusuk dan berwarna hitam. Cepat lambatnya gejala daun menguning tergantung berat ringannya infeksi dan kesuburan tanaman. Pengendalian: Pemberian pupuk kandang, pengapuran, pemupukan tepat dan seimbang, pemberian Natural Gliosebelum dan sesudah tanam.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
F. PANEN
1. Ciri dan Umur Panen
Panen pertama umur tiga tahun atau kurang. Ciri-ciri: tangkainya berubah agak kuning dan sudah ada buah yang masak (berwarna kuning atau merah).
2. Cara Panen Pemetikan dari buah bagian bawah hingga buah bagian atas, dengan mematahkan persendian tangkai buah yang ada diketiak dahan.
3. Periode Panen Periode panen sesuai iklim setempat, jenis lada yang ditanam dan intensitas pemeliharaan.
PRODUK NASA YANG DI GUNAKAN ADALAH :
  1. SUPERNASA
  2. POC NASA
  3. HORMONIK
  4. AERO 810
  5. NATURAL GLIO
  6. PESTONA

PAKET DIABETES NASA

Paket pengobatan diabetes mellitus dari nasa natural nusantara adalah sebuah paket pengobatan dari PT Natural Nusantara untuk mengobati penyakit diabetes mellitus. Selain pola makan yang tidak sehat pada saat masih muda biasanya penyakit diabetes juga bisa dikarenakan faktor keturunan genetik dari nenek, kakek atau orang tua.

Apa Itu Diabetes Mellitus ?

Diabetes Mellitus merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan peningkatan gula ( glukosa darah ) yang timbul akibat gangguan hormon insulin.
Insulin dihasilkan oleh sel Beta Pangkreas, memiliki fungsi penting untuk menjaga tingkat kadar glukosa darah. Bila terjadi gangguan pada pangkreas maka isulin baik secara kualitas maupun kuantitas akan terganggu dan kadar glukosa darah cenderung naik.

Penyebab Diabetes Mellitus

* Faktor Lingkungan

  • Virus
  • Obat-obatan ( golongan kortikosteroid )
  • Toksitas / keracunan ( insektisida
  • Dan lain-lain

* Faktor Genetik / Keturunan

* Faktor Pemicu

  • Kelebihan makanan
  • Kegemukan
  • Stress
  • Penyakit Jantung, Liver kronis
  • Perlu juga diwaspadai jika seorang ibu melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kg
  • Dan lain-lain

Gejala Diabetes Mellitus

1. Akut / Mendadak

* Gejala awal adalah 3 P :

  • Banyak makan ( Polifagia )
  • Banyak minum ( Polidipsia )
  • Banyak kencing ( Poliuria )
  • Berat badan penderita biasanya tidak mengalami perubahan karena insulin masih mencukupi.

* Bila tidak segera diobati maka isulin berkurang dan akan timbul :

  • 2 P ( Polidipsia dan Poliuria )
  • Nafsu makan berkurang ( berat badan akan turun 5 – 10 kg dalam waktu 2 – 4 minggu )
  • Mudah lelah
  • Bila tidak segera diobati maka akan timbul koma ( koma diabetik )

2. Kronik / Menahun

  • Kesemutan, rasa tebal di kulit, kulit terasa seperti tertusuk-tusuk jarum.
  • Mudah lelah dan mudah mengantuk.
  • Pandangan mata kabur dan biasanya sering berganti-ganti kacamata.
  • Gatal diekitar kemaluan, biasanya terjadi pada wanita.
  • Gigi mudah goyah dan mudah lepas.
  • Kemampuan seksual menurun bahkan impotent.
  • Ibu hamil yang sering mengalami keguguran.

Herbal Terapi Nutrisi Nasa Natural Nusantara

Natural Lecithin, terbuat dari olahan kacang kedelai yang bermanfaat dalam menghadapi diabetes.

  • Natural Lecithin mempunyai antioksidan, secara alami antioksidan merupakan senyawa anti radikal bebas sehingga dapat mencegah dan melindungi sel Beta Pangkreas dari serangan radikal bebas. Oksidasi radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan pada sel Beta pangkreas sehingga menurunkan untuk memproduksi insulin.
  • Lecithin ( phosphotidylcholine ) secara alami merupakan unsur dasar penyusun sel ( menyusun lebih dari 50% komposisi sel ), penambahan Natural Lecithin dapat memperbaiki kerusakan pada sel Beta Pangkreas yang rusak sehingga mampu memproduksi insulin kembali secara normal.
  • Diabetes merupakan penyakit yang dapat mengakibatkan berbagai macam komplikasi. Konsumsi Natural Lecithin secara teratur dapat mecegah terjadinya berbagai komplikasi.
  • Dosis dan aturan pakai dapat dilihat pada label produk.

Natural Chlorophyllin diramu dari daun Cawi yang diakui mengandung chlorophyll acid dan mengandung zat gizi yang dapat berguna bagi kesehatan manusia

  • Natural Chlorophyllin berfungsi sebagai antioksidan, secara alami antioksidan merupakan senyawa anti radikal bebas sehingga dapat mencegah dan melindungi sel Beta pangkreas dari serangan radikal bebas. Oksidasi radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan pada sel Beta pangkreas sehingga menurunkan kemampuan untuk memproduksi insulin.
  • Kerusakan urat syaraf yang memelihara lambung akan melemahkan fungsi lambung, sehingga pengosongan sisa makanan dalam lambung berlangsung lebih lama, kandungan serat larut dalam Natural Chlorophyllin membantu membersihkan lambung daan saluran pencernaan.
  • Serat larut dalam chlorophyllin di dalam saluran pencernaan membantu mempercepat proses pengeluaran kotoran dan mencegah terserapnya racun dari sisa makanan.
  • Penderita diabetes sering mengalami pembengkakan gusi sehingga mengakibatkan infeksi. Natural Chlorophyllin dapat juga digunakan sebagai antiseptik sekaligus mencegah bau mulut yang sering kurang enak dikarenakan infeksi dan pengentalan ludah dalam rongga mulut.
  • Dosis dan aturan pakai dapat dilihat pada label produk.

Serbuk Beras Merah Natural, terbuat dari beras merah alami yang kaya akan kandungan serat

  • Salah satu gejala khas pada penderita diabetes adalah sering merasa lapar. Kandungan serat larut dan tidak larut dalam SBMN membantu mengurangi rasa lapar, karena dalam saluran pencernaan serat akan dirubah menjadi gel dan dicerna dalam waktu yang lebih lama. Konsumsi makanan secara terus menerus dan tidak terkontrol dapat meningkatkan kadar gula darah.
  • Konsumsi Serbuk Beras Merah Natural secara teratur dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap dalam batas normal.
  • Konsumsi Serbuk Beras Merah Natural secara teratur dapat membantu pengeluaran lemak dan kolesterol dari dalam tubuh sehingga mencegah timbulnya komunikasi penyakit jantung dan atherosklerosis.
  • Sangat baik digunakan untuk kombinasi makanan bagi penderita diabetes.
  • Dosis dan aturan pakai dapat dilihat pada label produk.

CATATAN

  • Penggunaan produk kesehatan NASA yang direkomendasikan untuk membantu proses penyembuhan diabetes mellitus
  1. Natural Lecithin
  2. Natural Chlorophyllin
  3. Serbuk Beras Merah

Penggunaan pilihan produk secara lengkap dapat lebih mengoptimalkan proses penyembuhan penyakit

  • Bahan makanan yang dilarang :

Gula pasir, gula jawa, madu, sirup, selai, susu kental manis, kue-kue manis, dodol, kecap manis, abon manis, dendeng manis, makanan dalam kaleng, dan lan-lain.

  • Bahan makanan yang dibatasi :

Nasi, kentang, singkong, jagung, mie, bihun, ubi, jenis tepung-tepungan, kecap asin, petis, saus, vetsin, buah-buahan, dan lain-lain

  • Komplikasi Diabetes Mellitus

  1. Penurunan kemampuan seksual
  2. Komplikasi saraf ( Neuropati diabetik )
  3. Komplikasi ginjal ( Nefropati diabetik )
  4. Penyempitan pembuluh darah di mata ( Retinopati diabetik )
  5. Penurunan imunitas / kekebalan
  6. Tekanan darah tinggi ( Hipertensi )
  7. Penyakit Jantung Koroner atau penyempitan pembuluh darah jantung
  8. Luka pada ujung jari menghitam menjadi borok
  9. Batu empedu
  10. Mudah terkena peyakit kulit.
  • Diabetes merupakan penyakit yang bersifat laten, yaitu dapat menyerang kembali jika kita tidak berhati-hati dalam menjaga dan menanggulangi faktor resiko penyebab diabetes.